Menyoal Kembali In(ter)dependensi PMII


: Sidik Nur Toha
PC PMII Sleman
Usia PMII tidak bisa dikatakan lagi muda. Sudah hampir 50 tahun lebih semenjak ia didirikan pada tahun 1960. Artinya sudah hampir setenagh abad PMII dengan segenap kekayaan anggota, kader maupun alumni nya sedikit banyak telah memiliki kontribusi untuk Islam dan Indonesia. Mengapa Islam dan Indonesia? Sebuah jawaban apologetik berasal dari akronim PMII yang ada dua dari belakang, dimensi ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Dua dimensi itu selalu berkoinsidensi dalam jiwa, raga dan segenap gerak aktifis maupun alumni PMII. Dalam kata yang sederhana dan dalam lanskap cita-cita ideal PMII, seorang aktivis PMII memanggul setidaknya dua amanat : amanat keluhuran Islam dan kesejahteraan Indonesia yang saling terintegrasi satu sama lainnya. Mengapa bukan NU? Jawab itu akan penulis jawab dibelakang. Hal itu dilengkapi dengan dua amat lain yang ada dan terdapat dalam dua akronim lainnya, yakni Pergerakan dan Mahasiswa. Pergerakan yang terkandung dalam PMII adalah sebuah kesadaran hamba yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan rahmat bagi alam semesta. Sementara arti ‘Mahasiswa’ yang terkandung dalam PMII adalah generasi muda yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, bagian dari intelektual dan intelegensia yang memiliki tanggung jawab ilmu untuk amal.
Penulis meyakini, bahwa atas dasar rahmat Alloh –melalui doa para pendiri, ulama dll- membuat PMII masih terus bisa bertahan dalam pasang surut perjalanannya mengarungi berbagai problematika. Bukanlah hal yang mudah sebuah organisasi yang memiliki lebih dari 200 cabang se-Indonesia, ribuan komisariat dan jutaan kader dengan kompleksitas permasalah yang berbeda-beda ditiap daerahnya. Masih tetap utuh, tidak pecah dan terus bergeliat di tengah apatisme generasi muda saat ini. Sejarah pernah membuktikan tumbangnya banyak organisasi mahasiswa baik karena persoalan politik, regenerasi serta banyak permasalahan lainnya. Sehingga organisasi yang pada awalnya didirikan di Surabaya ini masih sedikit banyak berkontribusi dan selaras pada cita-cita dan agenda agama Islam Ahlussunah wal Jamaah dan bangsa Indonesia. Adalah fakta sejarah bahwa kontribusi PMII tidak bisa dinafikan sama sekali, akan tetapi kita ingin membangun PMII sebagai gerakan dan organisasi masa depan. Untuk seratus tahunnya dan abadi selama-lamanya. Salah satu hal yang terus menjadi polemik adalah soal independesi atau dependensi atau interdependensi PMII. Dalam hal ini penulis ingin mengajukan argumen intelektual, bukan politik atau taktik, mengapa kita harus mempersoalkan kembali in(ter)dependensi PMII. Argumen yang penulis sampaikan adalah murni pendapat pribadi, tidak mewakili golongan ataupun institusi manapun. Penulis harap, tulisan ini bisa merangkum sekian lama diskusi, perdebatan dan cangkrukan gagasan dalam lamanya penulis berproses.
Pertama
Penulis akan memulai dari argumen historis terlebih dahulu. Cikal bakal atau alasan keberadaan (raison d etre) adalah terseraknya barisan kaum Nahdliyyin dalam berbagai organisasi. Usaha untuk membuat suatu barisan yang menghimpun khusus mahasiswa Nahdliyyin sudah sejak lama ada. Setidaknya menurut catatan Fauzan Alfas ada tiga organisasi atau wadah tersebut. Pertama adalah IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) di Jakarta pada tahun 1955, kedua di Surakarta berdiri pada tahun 1955 dan yang terakhir adalah PMNU (Persatuan Mahasiswa NU) di Bandung. Akan tetapi organisasi itu tetaplah organisasi yang terlokalisir dan tidak meluas nasional. Sehingga dalam organisasi silaturahim antar elemen mahasiswa tidak bisa menjadi representasi yang memadai.
Sebenarnya waktu itu, untuk mahasiswa Nahdlyyin sudah ada suatu wadah perhimpunan bersama dalam HMI. Akan tetapi, HMI tidak bisa menegaskan dirinya dengan paradigma Islam Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah. HMI semenjak dulu sampai sekarang tetap memegang teguh ideologi Islam dan semenjak dahulu memiliki biar Masyumi. Itu sebabnya pada pemberontakan PRRI, HMI memiliki sikap yang ambigu karena pemahaman konsepsi Islam sebagai jalan hidup, agama dan negara masih memiliki bias dalam akar ideologi Masyumi. Untuk hal ini penulis tidak akan membahasnya lebih jauh. Sudah banyak dikemukakan dalam banyak buku-buku sejarah yang mengupas akan hal ini. Akan tetapi perlu didudukkan lagi, bahwa meski Mahbub Djunaidi (alloh yarham) merupakan seorang kader HMI, tidak bisa dikatan bahwa PMII lahir dari rahim HMI. Kelahiran PMII berasal dari faktor endogen, yakni aspirasi ber-jam’iyyah mahasiswa-mahasiswa Nahdliyyin.
Aspirasi endogen ini ditangkap oleh pengurus pusat IPNU (Ikatan Pelajar NU) yang kemudian membentuk departemen perguruan tinggi untuk menampung mahasiswa Nahdliyyin. Akan tetapi pembentukan itu tidak berarti banyak bagi kemajuan perkembangan mahasiswa Nahdliyyin. Ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Tapi yang paling utama adalah kondisi psikologis maupun intelektual pelajar sangatlah berbeda dengan keinginan, dinamika dan perilaku mahasiswa. Ditambah kondisi politik nasional pada saat itu menuntut dilakukan pembacaan gerakan mahasiswa yang amat berbeda dengan kondisi para pelajar di lingkungan NU.
Agar tulisan singkat ini tidak bertele-tele, penulis mencoba menjelaskan mengapa PMII tidak memakai akronim NU di belakangnya. Hal ini meski bukan merupakan pertanyaan prinsipil, seringkali muncul dalam perdebatan ‘tidak serius’. Tapi alasan sejarah ini mungkin membuka banyak wawasan bagi kita. Pertama para pendiri sadar bahwa sejak semula PMII adalah kader intelektual muda NU. Pada waktu pembentukannnya, NU masih berbentuk partai politik dan Indonesia masih berada dalam semangat revolusi Soekarno. Yang kedua adalah menunjukan betapa dinamisnya pendapat dan argumen untuk mendirikan PMII tanpa mencantumkan nama NU di belakangnya, terutama pada saat situasi sedang diliputi isu nasional dan semangat revolusi. Dan yang terkahir adalah manifestasi integrasi ke Islam an dan ke Indonesia an yang implikasinya jauh lebih luas. Itu menunjukan bahwa pendiri PMII adalah orang-orang yang mementingkan substansi dibandingkan wadah. Serta cita-cita besar yang jauh melampai sekat-skeat primordial maupun sektarian.
Itu alasan pertama, argumen historis dan raison d etre atau alasan keberadaan PMII pada awalnya sampai saat ini. Mengutip seorang Goerge Orwell, seorang novelis masyhur, bahwa masyarakat yang lupa akan sejarahnya adalah masyarakat yang tidak memiliki masa depan. Inilah mabda’ langkah pertama bagaimana kita mencoba mendudukan lagi perdebatan in(ter)dependensi PMII. Penulis tidak menyangka, untuk satu alasan ini (belum beserta tafsirnya) sudah begitu panjang. Kita akan langsung coba memasuki argumen kedua.

Title : Menyoal Kembali In(ter)dependensi PMII
Description : : Sidik Nur Toha PC PMII Sleman Usia PMII tidak bisa dikatakan lagi muda. Sudah hampir 50 tahun lebih semenjak ia didirikan pada tahu...

0 Response to "Menyoal Kembali In(ter)dependensi PMII"

Posting Komentar

Histats

Total Tayangan Halaman

PR

PageRank Checker