Memiliki nama yang kemudian menjadi laqob umum-umum itu susah tidak susah. Tantangan belajar dan hambatan untuk banyak aktivitas lainnya. Seperti Pemimpin Umum, Ketua Umum, Fasilitas Umum dan lain-lainnya. Beda dengan dia yang hanya menjadi Kepala atau yang sejenisnya. Dari pentasbihan nama Umum itu, tak pernah kemudian ada dan disiapkan yang Khusus. Seperti Ketua Khusus, Pemimpin Khusus dll. Jadilah yang tentang Umum itu kemudian dia yang tidak bergandengan dengan yang khusus. Tapi itu bukan soal utama, meski soal yang lumayan penting juga.
Pengalaman penulis, kemudian adalah pernah dan sedang menyandang
dua kata umum dalam waktu yang lumayan. Pernah menjadi Pemimpin Umum sebuah
rintisan Jurnal sampai kemudian benar-benar berdiri selama kurang lebih dua
tahun. Sedang menjadi Ketua Umum sebuah organisasi mahasiswa. Sama-sama
menyandang nama Umum di belakangnya. Meski untuk yang pertama, penulis lebih
menyukai menyebut nama Pembantu Umum dibandingkan nama Pemimpin. Kelihatannya
sederhana, tapi secara psikologis bagi penulis lumayan membantu. Pemimpin
nampak memikul tanggung jawab semua bagian, sementara pembantu nampak
melengkapi semua bagian. Pemimpin penulis rasa ada unsur psikologis untuk
berada di depan, sementara pembantu selalu berada bersama pasukan dan berusaha
men-blow up potensi setiap pasukan yang ada. Pemimpin tugasnya memimpin,
pembantu tugasnya membantu. Perubahan
ini baru penulis pikirkan ketika selesai terbit edisi perdana.
Entah apa yang kemudian penulis rasakan ketika secara tidak
diinginkan mendapat nama Ketua Umum. Suatu amanah yang orang anggap penulis
ingingkan, tetapu sudah hampir setengah tahun sebenarnya penulis hindari karena
beberapa alasan. Dalam beberapa hal, penulis merasa posisi paling pas bagi penulis
adalah memperkaya wacana, bukan masalah teknis-organisasional. Kedua,
cakupannya yang amat dinilai politis yang jauh dari passion penulis selama ini.
Tapi apa daya, bubur sudah menjadi nasi. Tetiba orang-orang yang tidak kenal memanggil
dengan nama Ketum, orang-orang terdekat secara naif bagi penulis seringkali
berbuat hal yang sama. Ini uneg-uneg pribadi saja. Ada banyak selamat,
sebanding ada banyak was-was juga. Bagi penulis ini beban psikologis
tersendiri. Ditambah tidak ada Ketua atau dia yang khusus lagi. Apa ada
singkatan lain untuk nama Ketum selain ketua ?
Keterangan Umum? Suket Umum? Masih unthinkable.
Secara guyon tapi tidak guyon, tulisan ini ingin mencatat
pengalaman-pengalaman penulis menyandang nama Umum dan mencoba menulis design
dengan kata Umum yang baru itu. Catatan ini semacam kenangan, pengantar sambatan dan harapan.
Penulis menjadi Pemimpin Umum ketika semester 5. Masih berada pada
fase paling semangat untuk melakukan berbagai explorasi di kehidupan
Universitas. Penulis terlibat mulai dari perancangan design organisasi, visi
dan misi, jenis pendidikan/workshop yang kemudian nanti akan diadakan dan
eksekusinya. Dua tahun untuk memulai dari nol tentu bukan hal yang mudah. Tapi
penulis merasakan memahami seperti apa visi, tujuan, goal dan output dari
Jurnal yang sedang dikerjakan ini. Ada dinamika? Pasti dan banyak duka maupun
sukanya. Tapi semua itu agak jadi ringan karena kesatuan visi yang ada. Visinya
satu, misinya beragam tapi semuanya memahami. Semua bagian adalah menunjang
kesatuan visi tersebut. Beragam masukan bertubi-tubi, kritikan juga ada. Tetapi
semua itu menjadi bahan evalusasi. Secara umum kerja-kerjanya di apresiasi.
Meski banyak hal yang masih harus di benahi. Tetapi penulis setidaknya memahami
hal-hal apa yang hendaknya dibenahi. Transformasi jurnal ini ke depannya. Ada
senior yang selalu bisa menjadi partner diskusi dan berfikir, itu penting. Berbeda
dengan Umum di Organisasi sekarang ini. Penulis mencoba melist sambat-an
apa yang masuk, mencoba merengreng solusi apa yang paling mungkin. Penulis
anggap sambatan, karena penulis tidak bermaksud secara serius
menganggapnya sebagai problem.
Semakin besar cakupannya, berarti semakin besar kompleksitas
masalah yang hendaknya di selesaikan. Hal ini kemudian berkembang dengan ‘organisasi’
yang dipikirkan oleh orang lain. Setiap orang punya imajinasinya sendiri
terntang PMII. Sejauh penulis sowan terhadap banyak alumni, setiap orang punya
imajinasi tentang PMII itu harus seperti apa?. Dimensinya banyak, bahkan
terlalu banyak dan dengan segala keterbatasan sumberdaya manusia, fisik,
finansial yang ada menurut penulis, unfactual alias tidak faktual untuk
dikerjakan. Penulis berfikir, karena penulis merintis sebuah Jurnal belum
dengan sejarah yang panjang. Sedangkan PMII saat ini adalah kesinambungan
sejarah yang panjang. Ceritanya terlalu beragam, penuh liku dan laku. Dan
paling penulis sayangkan, sejarahnya minim yang tercatat atau
terdokumentasikan.Itu baru satu segi, padahal masih banyak segi yang lain.
Tapi yang paling susah adalah mencari simpul guna mengurai kompleksitas
tersebut bukan. Untuk perbaikan bersama, untuk kebaikan semua pihak yang ada.
Dari mana hendaknya dimulai?.
Mungkin dari blog ini, biar suatu nanti jika ada x/z, penulis mudah
tersadarkan.
Title : Tentang yang Umum-Umum
Description : Memiliki nama yang kemudian menjadi laqob umum-umum itu susah tidak susah. Tantangan belajar dan hambatan untuk banyak aktivitas lainnya....
Description : Memiliki nama yang kemudian menjadi laqob umum-umum itu susah tidak susah. Tantangan belajar dan hambatan untuk banyak aktivitas lainnya....
0 Response to "Tentang yang Umum-Umum"
Posting Komentar